Generosity

Jonny Herjawan, Ketua JPCC Foundation

Mari kita renungkan sejenak, apakah seseorang menjadi murah hati karena hidupnya berlimpah ataukah karena dia murah hati maka hidupnya menjadi berlimpah?

Seringkali kita berpikir bahwa apa yang ada di tangan kita seperti sebuah pizza yang bila kita berikan sepotong kepada orang lain maka bagian  kita menjadi berkurang. Seolah-olah setiap kita mendapatkan jatah atau bagian yang sudah ‘fixed’, atau dengan kata lain hanya datang sekali dan tidak datang lagi. Tetapi firman Tuhan dalam Yesaya 48:18 menuliskan: “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.”

Kita perlu ‘bertanya’ kepada Tuhan apakah yang ada di tangan kita ini roti atau benih yang Tuhan sediakan? Sebab Tuhanlah yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Tuhan juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya serta menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (2 Korintus 9:10). Jadi apakah yang di tangan kita ini benih ataukah roti? Kita perlu menikmati roti yang Tuhan sediakan bagi kita, tapi jangan kita makan benih yang Tuhan titipkan lewat kita untuk kita tabur. Benih akan tetap menjadi benih dan ‘terpendam’ potensinya apabila kita simpan, tetapi akan menjadi berlipatganda bila kita tabur dan tanam (di tempat subur tentunya). Are we preserving the seeds we have or are we investing the seeds we receive? To invest we need vision more than reason. Choose wisely.

Beri maka kamu akan diberi, tetapi sesungguhnya bila kita selalu memerlukan alasan yang tepat untuk memberi (sebagai “suatu akibat” dari “sebuah sebab”) apakah kita sebenarnya sungguh-sungguh sedang memberi atau kita hanya sedang menukarkan hadiah/pemberian kita (trading your gifts)?

Bisakah kita memberi hanya karena kita ingin atau suka memberi? Terlebih lagi bahkan kita bisa memberi walaupun kita tidak punya alasan apa pun untuk memberi.

Bukankah Yesus mengajarkan kepada kita untuk mengasihi musuh kita, berbuat baik kepada orang yang membenci kita, meminta berkat bagi yang mengutuk kita dan berdoa bagi yang mencaci kita?

“Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apa jasamu? Karena orang berdosa pun juga mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.” (Lukas 6:32-33)

Sebetulnya siapakah yang paling diuntungkan saat seeseorang memberi? Memang senang kalau kita menerima sesuatu, tetapi adalah terlebih berbahagia memberi daripada menerima. Mari kita bersama-sama membuktikan firman Tuhan ini. Lagipula saat kita memberi kepada yang memerlukan, kita seperti memiutangi Tuhan tulis Salomo dalam kitab Amsal, dan Tuhan tidak pernah berutang kepada umat-Nya sehingga kita pasti akan diberi oleh-Nya.

Generosity atau murah hati:
  Merupakan ciri dari orang yang mengalami dan merasakan kelimpahan hingga meluap (overflowing).
  Memampukan kita untuk memberi yang baik tanpa perlu ada alasan yang baik.
  Membuat kita melihat apa yang bisa dan bukan apa yang ada (visions over reasons).
  Membuat kita bisa bersuka dan berbahagia saat melihat berkat mampir di rumah tetangga kita.

Saya sungguh berharap agar kita semua bisa mengalami apa yang Raja Salomo tuliskan dalam Amsal 11:24a terjemahan The Message: “The world of the generous gets larger and larger.”  Di mana kehidup-an kita menjadi semakin besar dan semakin besar, karena benih yang ada di tangan kita dapat kita lepaskan potensinya dengan cara kita tabur dan tanam.

Mari kita semua menjadi orang yang murah hati (generous) dalam pemberian, perbuatan baik, pertolongan, pujian dan kata-kata yang membangun sehingga kehidupan kita menjadi pohon kehidupan yang berbuah lebat, dan buahnya manis dinikmati banyak orang.

“Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu dan juga lakukanlah semua itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” (2 Korintus 13:11)

SHARE
Previous articleBuilding Bridges
Next articleGenerosity

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here