Generosity

Apa arti generosity buat kamu?
Silfi: Kemauan untuk memberi dari apa yang kita punya, bisa berupa harta, waktu, maupun tenaga, dengan hati yang tulus dan senang.
Tije: Berbagi di dalam kelebihan maupun kekurangan. Tidak hanya dalam bentuk uang, tapi juga kebaikan, pengertian, dan tidak egois. Berusaha menolong orang yang membutuhkan selagi bisa.
Andrea: Melakukan tindakan yang bisa membantu orang lain.
Stefanus: A passion to give, yaitu memiliki gairah untuk memberi, semangat untuk memberi.

Siapa role model kamu dalam menerapkan generosity?
Silfi: Role model utama adalah Tuhan Yesus, karena Dia sebagai Raja rela turun ke bumi menjadi manusia dan menyerahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa kita. Role model lainnya adalah Bu Sri, seorang bidan yang bekerja di Puskesmas, di pedalaman Papua.
Tije: Orangtua.
Andrea: Papi saya.
Stefanus: Volunteers JPCC di ibadah hari Minggu, terutama para usher.

Kapan kamu melihat mereka menerapkan generosity?
Silfi: Ibu Sri rela meninggalkan keluarganya, mengabdi ke tempat dinas yang tanpa sinyal ataupun listrik dengan gaji seadanya. Sungguh lingkungan kerja yang jauh dari kata ‘ideal.’ Tapi beliau tetap melakukan tugasnya dengan sepenuh hati dan sangat disayang masyarakat di sana, karena sifatnya yang murah hati, tidak pelit untuk berbagi. Darinya, saya jadi mengerti arti “giving in simplicity”.
Tije: Mama saya selalu menawarkan uang pinjaman terhadap karyawan ataupun saudara yang membutuhkan. Walaupun sifatnya pinjaman, namun mama tidak pernah mengharapkan uang tersebut dikembalikan.
Andrea: Papi tidak pernah lupa memberi beras kepada tukang parkir. Kata papi, “Setidaknya kalau tidak ada lauk, ia tetap bisa makan nasi.”
Stefanus: Ketika saya melihat semua orang keluar dari lift tanpa bilang terima kasih, para ushers tetap melayani dengan tersenyum dan ramah.

Menurut kamu, kenapa kita harus memiliki sikap generous?
Silfi: Bersikap generous seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup kita yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, karena kita pun ingin menjadi serupa dengan Dia. Lagipula siapa yang lebih generous dibanding DIA yang sudah memberikan hidup-Nya untuk kita.
Tije: Untuk membentuk karakter, tidak menjadi serupa seperti dunia ini, juga memiliki pribadi yang peduli dengan sesama.
Andrea: Karena membantu orang lain dengan apa yang kita punya itu menyenangkan, apalagi kalau sudah melihat senyum mereka.
Stefanus: Karena generosity membuat kita menyadari kembali apa yang telah Tuhan percayakan kepada kita, kemudian belajar berkata cukup.

Di mana tempat yang tepat untuk kita menerapkan sikap generous?
Silfi: Bersikap generous tidak memandang tempat, bisa dilakukan di mana saja.
Tije: Di saat kita melihat ada orang yang membutuhkan bantuan. Contoh: Membantu orang tua menyeberang jalan.
Andrea: Di mana saja. Yang sering saya lakukan adalah di pabrik Oma.
Stefanus: Di kampus atau tempat kerja, tempat di mana setiap orang menghadapi tantangan setiap harinya, lalu kita dapat memberi dampak yang signifikan dalam kehidupan mereka.

Bagaimana cara kamu menerapkan sikap generous di lingkungan sekitar?
Silfi: Dengan berusaha menolong orang lain, di mana dan bagaimana pun caranya sebisa saya.
Tije: Dengan berbagi terhadap teman-teman yang membutuhkan. Dan seperti mama, saya tidak mengharapkan pengembalian.
Andrea: Karena saya sekolah kedokteran dan tinggal bersama Oma, saya sering memeriksa para karyawan di pabrik Oma, memberi obat-obatan tanpa memungut biaya.
Stefanus: Dengan membuat orang tertawa atau terhibur, memberi hati dan telinga untuk mendengar, lalu membantu memberi nasihat atau solusi.

SHARE
Previous articleYoung Adults Community
Next articleGenerosity

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here