Dimampukan untuk Melayani

oleh Ihsan & Tinny Gani, Marriage & Relationships Pastors

Kisah Para Rasul 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Sebagai anak-anak Tuhan, kita diurapi untuk menjadi saksi dengan melayani orang-orang di sekeliling kita. Dalam lingkaran yang terkecil, kita selayaknya dapat melayani keluarga, terutama pasangan kita.

Melayani pasangan dalam pernikahan seringkali menjadi tantangan tersendiri yang berbeda dibandingkan ketika kita bekerja untuk melayani klien atau pun rekan bisnis. Dalam pekerjaan, tuntunan profesionalisme atas nama bisnis membuat kita mau tidak mau mempunyai standar tertentu dalam melayani. Bahkan tak jarang kita berusaha melakukan extra mile demi penilaian kualitas pelayanan kita.

Namun di dalam rumah tangga, terkadang tidak seperti itu kejadiannya. Melayani pasangan bisa menjadi sekedar suatu kewajiban bahkan menjadi beban. Terlebih ketika kita pun sibuk dengan tanggung jawab yang lain. Padahal kita tahu bahwa melayani pasangan merupakan kesaksian hidup kita yang utama akan kasih kita kepada Tuhan. Melalui pelayanan, suami akan merasa dihormati dan istri akan merasa dikasihi.

Ada kalanya dalam melayani pasangan, kita memakai ukuran kita sendiri. Akibatnya, apa yang kita lakukan tidak tepat sasaran bahkan menyebabkan kesalah-pahaman.

Sebagai suami yang melayani istri dan juga sebaliknya, sangat pen­ting bagi kita untuk secara se­ngaja menanyakan bagaimana pasang­an kita mau dilayani. Pertanyaan sederhana seperti, “Apa yang bisa aku bantu saat ini?”, dapat memberikan pencerahan dan solusi. Karena tujuan kita dalam mela­yani adalah untuk membantu meringankan beban pasangan kita, bukan sebaliknya.

Apabila kita menjadi orang yang membutuhkan bantuan/pelayanan dari pasangan, jangan kita berdiam diri ataupun membiarkan pasangan kita “clueless”. Ketika hal itu terjadi, jangan marah atau bersungut-sungut menganggap bahwa pasangan kita tidak sensitif akan kebutuhan kita. Perlu kita komunikasikan kebutuhan kita kepada pasangan dengan jelas dan lemah lembut sehingga pasangan kita pun termotivasi untuk merespon dengan suka cita.

Let’s serve our spouse in the way they want to be served.

Filipi 2:3, “Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya hendaklah kalian masing masing dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri sendiri.”

SHARE
Previous articleNext Gen
Next articleKuasa & Pengurapan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here