Penemuan di Nuweiba (Pi-hahirot Alkitabiah)

oleh Ian Vail

Pada Nugget di bulan Agustus, saya meninggalkan saudara untuk berkemah di Pi-hahirot dengan posisi membelakangi lautan:

Mereka berangkat dari Sukot, lalu berkemah di Etam yang di tepi padang gurun. Mereka berangkat dari Etam, lalu balik kembali ke Pi-Hahirot yang di depan Baal-Zefon, kemudian berkemah di tentangan Migdol.Mereka berangkat dari Pi-Hahirot dan lewat dari tengah-tengah laut ke padang gurun, lalu mereka berjalan tiga hari perjalanan jauhnya di padang gurun Etam, kemudian mereka berkemah di Mara. (Bilangan 33:6-8)

Pi-hahirot menjadi tempat terbaik untuk menyeberangi Laut Merah secara geografis. Kriteria pertama agar sebuah tempat dianggap baik sebagai tempat perkemahan yakni tempat tersebut harus cukup besar untuk menampung dua juta orang beserta seluruh ternak mereka. Selain itu, tempat tersebut harus sesuai de­ngan deskripsi orang-orang Israel: dikelilingi dan terkurung oleh Laut Merah. Ada komentar menarik yang dapat kita temukan pada Keluaran 14:3 yang berkata:

Dan Firaun akan berkata tentang orang Israel, mereka terjebak di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka. (Terjemahan literal)

Sebab Firaun akan berpikir,’Orang-orang Israel telah terperangkap sekarang, di antara padang gurun dan lautan. (The Living Bible)

Semenanjung Nuweiba adalah sebuah lokasi sempurna yang memenuhi kriteria di atas. Area pesisir di sisi barat dari Teluk Aqaba terdiri dari barisan-barisan gunung yang menjulang sampai ketinggian 2000 meter dan kemudian menurun dengan tajam ke tepi Laut Merah. Semenanjung Nuweiba adalah sebuah dataran pantai yang besar, sekitar 19 kilometer persegi di bagian barat pesisir Teluk Suez. Area ini cukup besar untuk menampung orang-orang Ibrani yang sedang melarikan diri dan juga tentara Mesir yang sedang mengejar me­reka. Tetapi lebih lagi, tempat ini sangat tepat dengan deskripsi yang disebutkan di Keluaran 14:3. Harus ada tempat yang cukup di pesisir pantai untuk menampung orang-orang Ibrani, dan mereka harus terlihat seperti terperangkap di sana. Akses masuk ke dataran tersebut harus dari dalam untuk memenuhi deskripsi cerita tersebut. Dataran Nuweiba (Pi-Hahirot) adalah satu-satunya tempat di sisi barat Laut Merah yang memenuhi persyaratan tersebut.

Akses menuju dataran pesisir ialah melalui Wadi Watir (Lembah Watir). Hal ini juga senada dengan ayat yang tertulis di Bilangan 33, yang menggambarkan mereka berbalik ke arah ini untuk dapat pada akhirnya sampai ke Semenanjung Nuweiba. Itulah yang akan terjadi apabila Anda menghampiri semenanjung dari arah dalam. Anda harus berjalan melalui sebuah gugusan lembah menuju Nuweiba, yang mengharuskan anda untuk berubah arah dan berbalik dari arah perkemahan di Etam. Nuweiba pada masa kini adalah tempat di mana kapal ferry menyeberangi Laut Merah untuk menuju Aqaba di Yordania.

Josephus, seorang ahli sejarah Yahudi, mencatat (Antiquities 2/15:3) bahwa perkemahan mereka dikelilingi dari dua arah oleh pegunungan yang terbentang sampai ke laut dan tidak bisa dilewati. Sisi yang ketiga dibatasi oleh Laut Merah, dan sisi keempat dibatasi dengan lembah yang dilewati oleh orang Israel untuk sampai ke perkemahan tersebut. Satu-satunya akses untuk orang Ibrani pada zaman Keluaran adalah melalui Wadi Watir, keluar dari pegunungan dan turun ke pesisir.

Dimanakah letak Migdol, Pi-Hahirot dan Baal Zefon? Apakah mungkin untuk menemukan dengan tepat lokasi ini pada peta yang kita miliki sekarang?

Migdol (Ibrani: Menara) berada agak jauh dari pantai Laut Merah di perbukitan di bagian dalam perkemahan di Pi-Hahirot. Sangat memungkinkan bahwa Migdol adalah sebuah menara pengawas atau sebuah tempat titik pandang di bukit yang memperlihatkan Lembah Watir ke daerah pesisir. Berdasarkan sumber dari Mesir, Migdol digambarkan sebagai benteng yang berlokasi di arah timur laut perbatasan Mesir. Nuweiba atau Pi-Hahirot terletak di arah pinggir timur laut Mesir.

Pi-Hahirot (Ibrani: Mulut goa / Mesir: tempat yang berumput) adalah tempat yang sangat cocok untuk melihat pemandangan Semenanjung Nuweiban dari dua sudut pandang, yang pertama menghadap ke belakang ke arah barat menuju bukit-bukit, yang kedua menghadap ke arah Laut Merah dari bukit-bukit. Air tersedia bagi tumbuh-tumbuhan pada musim yang tepat ketika permukaan air tanah lebih tinggi, atau ketika hujan turun. Lembah bagian bawah dari perbukitan yang mengarah ke lautan ada dengan kondisi cukup lembab untuk rerumputan tumbuh. Kita tahu bahwa Pi-Hahirot berjarak dekat dengan titik dimana orang Ibrani menyeberangi Laut Merah.

Baal Zefon (Ibrani: Tuan dari Utara) kemungkinan adalah tempat yang berhadapan dengan Pi-Hahirot di bagian timur dari sisi Teluk Suez. Kita dapat berasumsi bahwa tempat ini berada di sisi lain dari perairan yang berhadapan langsung dengan titik permulaan me­reka. Baal Zefon dengan jelas terhubung dengan sebuah situs penyembahan berhala di Midian – Baal dari Zefon. Pada masa ini di Arab Saudi, berseberangan langsung dengan Teluk Suez, terdapat sebuah tempat beberapa kilometer ke dalam yang disebut Saraf al-Bal. Terdapat sebuah kesamaan secara linguistik antara kedua nama tersebut yang mengikuti peraturan fonologi untuk perubahan kata di antara bahasa-bahasa yang bersangkutan.

Semua bukti-bukti terlihat berkesinambungan dan sesuai. Kita akan menginvestigasi bukti-bukti Arkeologi pada Nugget bulan depan, yang akan menambahkan kredibilitas kepada teori yang telah kita bahas sampai saat ini.

SHARE
Previous articleJPCC Men’s Ministry
Next articleNext Gen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here