To be Alive is to be Secure with Yourself

oleh Michael Tjandra - Department Media & Communication

Naik kelas tidak selalu menyenangkan bagi sebagian orang. Seringkali, justru mem-bongkar pola pikir serta zona nyaman yang sebelumnya kita miliki. Contohnya, ketika kita naik level, dari bekerja seorang diri, menjadi seseorang yang harus membawahi puluhan orang. Banyak input atau masukan yang kita perlukan, agar lebih mudah menyesuaikan diri.

Beberapa hal ini, mungkin berguna untuk membantu kita semua :

Mengelola emosi

Memiliki bawahan seringkali membuat kita cukup emosional. Padahal, menahan emosi adalah suatu ‘pekerjaan’ yang tidak mudah. Apalagi kalau orang-orang yang kita pimpin, memiliki keinginannya sendiri dan sangat jauh dari visi yang dimiliki oleh perusahaan, termasuk orang yang memimpinnya. Belum lagi jika divisi yang kita pimpin harus berkolaborasi dengan divisi lainnya, yang juga memiliki karakteristik yang berbeda.

Untuk bisa mengelola emosi, yang perlu diingat adalah kehidupan pribadi mempengaruhi kinerja seseorang. Itu sebabnya, sebagai pemimpin, ada baiknya mengetahui bagaimana kondisi kehidupan dari masing-masing karyawan yang kita pimpin sehingga kita bisa membantu mereka mengeluarkan potensi TERBAIK dalam diri mereka. Jadi sebelum terjebak dengan amarah, ada baiknya kita tahu apa yang terjadi dan mengapa mereka melakukan hal yang tidak sesuai dengan arahan kita atau perusahaan.

Value & Relevan

Salah satu tantangan kita, para pemimpin adalah saat menyampaikan sebuah gagasan atau pemikiran sehingga dimengerti dan dapat dilakukan oleh orang-orang yang berada di bawah supervisi kita. Karena tidak semua punya pemikiran yang sama dengan kita, maka cara termudah untuk menularkan ‘value’ positif yang kita dapatkan dari gereja dan menyampaikannya dengan cara yang paling relevan adalah dengan menjadi ‘role model’ dari value itu sendiri.

Miliki orang-orang yang dapat dipercaya

Memiliki orang-orang yang dapat dipercaya, merupakan kunci terpenting untuk dapat memastikan kinerja terbaik dari setiap karyawan. Orang-orang yang dapat dipercaya ini, sebenarnya memiliki peran yang mirip dengan core-team, baik itu di berbagai pelayanan JPCC termasuk di MedComm Department maupun di DATE. Pentingnya core-team ini agar dapat menjembatani setiap karyawan untuk mengetahui lebih dalam mengenai visi dan arah perusahaan, serta membuat proyeksi ke depan sehingga menjaga para karyawan tetap pada jalurnya untuk mencapai tujuan bersama.

Punishment and Reward: Efektifkah?

Seringkali jalan yang kita tempuh untuk dapat mengelola sumber daya manusia adalah melalui mekanisme punishment and reward. Namun, seberapa efektifnya mekanisme ini? Punishment and reward bisa menjadi efektif untuk jangka pendek. Tapi, jika tujuannya adalah memiliki orang-orang yang berkomitmen, mekanisme ini sebaiknya menjadi pilihan terakhir. Umumnya, mekanisme ini akan membuat anggota tim bergerak karena rasa takut dihukum ketimbang memiliki kesadaran yang penuh dalam mengeluarkan potensi mereka.

Small community is a must!

Memiliki komunitas dengan minat atau ranah kerja yang serupa, sangat membantu kita untuk mengatasi sejumlah permasalahan di kantor. Kita bisa belajar dari orang-orang pada level yang sama atau bahkan para senior. Jangan malu untuk bertanya dan bertukar pikiran bagaimana mengatasi masalah yang ada atau mungkin belajar memperkaya diri dengan pengetahuan dan keahlian lainnya. Model serupa sebenarnya telah kita lihat di dalam DATE dan area pelayanan. Melalui keduanya, seakan kita diingatkan kembali, mengenai apa yang menjadi tujuan kita, why you do what you do?

That’s Alive!

Alive dapat diartikan sebagai hidup dengan kadar kekhawatiran rendah, karena kita percaya bahwa Tuhan yang pegang kendali atas hidup kita. Rasa tidak aman yang ditimbulkan karena kita merasa selalu dibandingkan dengan orang lain, apalagi di marketplace, seharusnya tidak lagi menguasai kita. That’s ALIVE.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here